5 Fakta Unik dari Prof. Muhammad Ali Ramdhani, Sekjen Kemenag. Salah satunya Produktif Menulis Jurnal

oleh

JAKARTA SENTRA PUBLIKASI INDONESIA — Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP, M.T dilantik menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Agama oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Auditorium H. M. Rasjidi, Kantor Kemenah Jalan M. H. Thamrin, Jakarta, Selasa (26/3/2024).

Mari kita mengenal lebih jauh tentang sosok Prof Dhani, sapaan akrabnya yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor III, IV dan Direktur Pascasrjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang dikutip dari laman UIN Bandung, Rabu (27/3/2024).

1. Cucu dari KH. Anwar Musaddad, Rektor pertama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Lahir di Garut pada tanggal 06 November 1971 dari pasangan Prof. Dr. Hj. Ummu Salamah MS dengan Prof. H. Cecep Syarifuddin (alm).

Ibunya, Prof. Hj. Ummu Salamah, MS, merupakan anak dari pasangan Prof. KH. Anwar Musaddad dan Hj. Atikah Kutubi. Prof. Ummu adalah Guru Besar Universitas Pasundan Bandung, Ketua Yayasan Musadaddiyah Garut, Ketua Dewan Pembina Universitas Garut (UNIGA). Sedangkan ayahnya Prof. Cecep merupakan akademisi, politisi DPR/MPR. Prof Cecep merupakan putra dari K. H. Tb. Muhammad Falaq, Pagentongan, Bogor.

2. Guru Besar di usia 34 tahun.

Prof. Dhani pada tahun 2006 dikukuhkan sebagai Profesor (Guru Besar) dengan usia muda.

3. Produktif Menulis Jurnal.

Saking rajinya menulis dan publikasi karya ilmiah di jurnal terakreditasi, bereputasi internasional. Tercatat sudah ada 117 tulisan yang terindeks Scopus dengan sitasi total sitasi 1033 dukumen dan h-index 21 dukumen. Pada tahun 2018, Prof Dhani dinobatkan sebagai penulis artikel ilmiah dengan Sinta score tertinggi kategori perguruan tinggi keagamaan.

4. Jadilah Pembelajar Sepanjang Masa.

Ciri masyarakat pembelajar untuk terus belajar dan berinovasi guna memperkuat semangat dirinya sebagai pembelajar. “Orang terpelajar adalah orang yang menatap masa lalu, tetapi orang yang belajar adalah orang yang menatap masa depan. Mari kita memposisikan dirinya sebagai pembelajar sepanjang masa melalui proses refleksi, berbagi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak,” tegasnya.

“Berhenti belajar bagi seorang guru adalah hakikat kematian bagi seorang manusia. Guru adalah mereka yang siap mendedikasikan hidupnya pada pembelajaran sepanjang hayat. Dalam istilah akademika, yang ada adalah winner dan the better. Tidak ada istilah kalah, buat kita, yang perlu adalah terus belajar,” tandasnya.

5. Tidak ada manusia Superman hari ini yang ada hanya superteam.

Saat ini bukan eranya saling berkompetisi tetapi era saling berkolaborasi antarperguruan tinggi. “Di dunia ini, tidak ada Superman yang ada adalah supertim, tidak ada orang yang semua serba tau, kecuali dia hanya sebagian tau, untuk itu, dalam hidup perlu berkolaborasi dengan orang lain,” paparnya.

Untuk maju secara akseleratif dan berkesibambungan, maka PTKIN harus bekerja secara bersama. “Ada pepatah mengatakan bahwa jika ingin berjalan cepat, maka jalanlah sendiri, tetapi jika ingin berjalan jauh, maka jalanlah bersama-sama,” pungkasnya.