Menu

Mode Gelap

Umum · 26 Jul 2022 11:06 WIB

Sosiolog UGM: Citayam Fashion Week, Representasi Kaum Muda Menengah ke Bawah

Avatar badge-check

Editor


 Sosiolog UGM: Citayam Fashion Week, Representasi Kaum Muda Menengah ke Bawah Perbesar

SPI-YOGYAKARTA

Belakangan ini muncul komunitas anak muda yang berasal dari Depok, Citayam dan Bojong Gede membanjiri jalanan di kawasan bisnis dan perkantoran di jalan Sudirman, Jakarta. Mereka memunculkan fenomena baru disana, sebagai area publik untuk unjuk ekspresi. Lalu, muncullah ide kegiatan Citayam Fashion Week yang dikenal luas oleh masyarakat. Sebagai bagian dari kegiatan fashion jalanan, apakah kemunculan Citayam Fashion Week ini bisa dikatakan ekspresi anak muda atau fenomena budaya musiman?

Menurut sosiolog UGM, Derajat Sulistyo Widhyarto, S.Sos., M.Si., kemunculan Citayam Fashion Week sebagai bagian pembentukan budaya baru yang dilakukan oleh anak muda sehingga perlu diapresiasi. “Salah satu karakter kaum muda adalah pencipta budaya dan kebudayaan youth culture. Fenomena Citayam mempunyai efek budaya dari kebudayaan tersebut,” katanya, Rabu (20/7).

Kemunculan mereka yang menggunakan area publik di pusat kota sebagai lokasi unjuk ekspresi serta memilih gaya busana sebagai pilihan budaya baru sangat brilian karena gaya busana bagian dari budaya yang bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.”Ruang kota menawarkan tantangan baru yakni kesempatan untuk mendorong pembentukan budaya mengikuti budaya yang bisa diterima adalah fashion,” jelasnya.

Para anak muda yang melakukan peragaan busana di jalanan ibu kota ini umumnya berasal dari kota-kota penyangga Jakarta. Bahkan, mereka juga berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah yang seakan menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan melawan arus fenomena budaya konsumerisme dan pamer kemewahan yang ditunjukkan para pegiat medsos dan influencer.”Mereka memang kalah bertarung dengan kaum muda menengah ke atas yang sudah masuk ruang bisnis kota. Maka Citayam adalah representasi kaum muda menengah ke bawah dan menjadi bagian dari eksistensi baru mereka dalam mengisi ruang kota dan sekaligus pembentuk budaya muda kota,” ujarnya.

Meski begitu, kaum muda ini menurut Derajat Sulistyo juga menggunakan media digital untuk memperkuat gaung ruang ekspresi budaya baru mereka. “Kaum muda di sana paham betul jika Jakarta adalah ruang yang bisa mewakili daya tarik dan meningkatkan audiens. Maka mereka dengan sadar menjadikan Jakarta sebagai ruang penciptaan budaya,” paparnya.

Namun, ada hal yang disoroti oleh Derajat adalah cara gaya busana yang digunakan para komunitas Citayam ini yang memilih menggunakan baju pinjaman atau membeli dengan harga murah. Berbeda dengan yang dilakukan oleh kaum muda perkotaan.

“Menggunakan baju pinjaman sampai dengan membeli dengan harga murah, hal inilah yg membentuk kritik konsumsi fashion kaum muda kota yang terjebak memakai baju produk industri,” katanya.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Pesan Dirjen Pendis: Biar Keren dan Miliki Halo Effect, Humas Harus Cerdas Kelola Informasi

6 Februari 2023 - 20:55 WIB

Hasil Riset: Ngobrol Sama Teman Sekali Sehari Baik Buat Kesehatan Mental

6 Februari 2023 - 10:26 WIB

Prof Mahmud: Jadikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam sebagai Jurusan Berskala Internasional!

1 Februari 2023 - 23:53 WIB

Innalillahi, Wakil Dekan I FTK UIN Bandung Meninggal Dunia

24 Januari 2023 - 09:42 WIB

Menag: Jangan Lakukan Koruptif

21 Januari 2023 - 11:03 WIB

Keren! Mahasiswa UIN Bandung Diajak Perkuat Jiwa Wirausaha Lewat Bonsai

9 Januari 2023 - 10:28 WIB

Trending di Umum