Menu

Mode Gelap

Riset & Edukasi · 8 Nov 2022 10:30 WIB

Hasil Riset UNPAR: Model Matematika untuk Mencegah Penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Kelompok Usia Muda

Avatar badge-check

Editor


 Stiker tanda kegiatan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk di permukiman padat pinggir Sungai Cikapundung Kolot di Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, 14 September 2022. Prima Mulia Perbesar

Stiker tanda kegiatan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk di permukiman padat pinggir Sungai Cikapundung Kolot di Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, 14 September 2022. Prima Mulia

SENTRA PUBLIKASI INDONESIA-BANDUNG 

 

Demam berdarah dengue (DBD) hingga saat ini menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Penyakit yang menular lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut bisa menyebabkan penderitanya meninggal dunia jika terlambat mendapat penanganan medis. Risiko tersebut semakin besar karena penularannya yang cepat dan dalam skala wilayah sebaran yang relatif luas.

Penyebaran penyakit DBD terkait erat dengan siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama yang menularkan virus dengue pada manusia. Virus memasuki tubuh saat nyamuk yang telah terinfeksi menggigit manusia untuk mengambil darah. Makin banyak populasi nyamuk yang hanya hidup di wilayah tropis tersebut, makin besar risiko penyebaran penyakit DBD pada manusia.

Mayoritas kota besar di Indonesia menjadi langganan penyebaran penyakit DBD. Beberapa di antaranya bahkan pernah menetapkan status kejadian luar baisa (KLB). Kota Bandung mewakili gambaran kota besar di Indonesia yang rentan menghadapi penyebaran penyakit DBD.

Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat tren kenaikan kasus DBD dari 3.435 kasus pada 2010 menjadi 5.735 kasus pada 2013. Kelompok usia muda, antara 0 sampai 15 tahun, menjadi yang paling banyak tertular pada periode tersebut. Pada 2011 terdapat 1.758 kelompok usia tersebut tertular DBD. Pada 2012 jumlahnya meningkat menjadi 2.284 kasus. Tahun 2013 jumlahnya lebih banyak lagi, yakni 2.890 kasus.

Riset kolaboratif yang dilakukan IGNM Jaya (Jurusan Statistik Universitas Padjadjaran,) F. Kristiani (Jurusan Matematika Universitas Katolik Parahyangan), Y. Andriana (Jurusan Statistik Universitas Padjadjaran), serta BN Ruchjana (Jurusan Matematika Universitas Padjadjaran) menawarkan model matematika untuk membantu upaya mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Salah satunya lewat pemetaan daerah paling terancam.

Hasil riset Jaya dkk. dituangkan ke dalam artikel berjudul “Modeling dengue disease transmission for juvenile in Bandung, Indonesia” yang terbit di jurnal “Communications in Mathematical Biology and Neuroscience”, SCIK Publishing Corporation, pada Maret 2021. Yang dijadikan basis data adalah kasus penyebaran DBD pada kelompok usia muda di Bandung pada 2013.

Alternatif dari Model Matetatika

Sudah banyak strategi yang dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Yang paling sering dipraktikkan adalah intervensi terhadap vektor penyebar penyakit tersebut, yakni sang nyamuk.  Mulai dari kerja membersihkan lingkungan hingga penerapan teknologi rekayasa genetika.

Riset Jaya dkk. menawarkan pendekatan berbeda. Pengembangan model matematika dengan analisis big data untuk memperkirakan transmisi penyebaran penyakit DBD bisa menolong otoritas kesehatan setempat menyiapkan strategi pencegahan dini.

Tim peneliti menggunakan data penyakit DBD yang diperoleh dari 7 rumah sakit di Kota Bandung lewat 52 pengamatan pada tahun 2013. Hasilnya, tercatat 2.768 kasus DBD pada kelompok usia muda yang mewakili 30 kecamatan.

Dari data tersebut diketahui bahwa jumlah kasus DBD untuk kelompok muda banyak ditemukan di kecamatan yang berada di barat daya Kota Bandung, seperti Kecamatan Bandung Kidul, Babakan Ciparay, dan Bojongloa Kidul. Sementara kecamatan yang berada di sisi timur umumnya memiliki jumlah kasus DBD relatif sedikit.

“Salah satu strategi pencegahan penularan yang efektif dan efisien adalah dengan menganalisis sebaran spasial dan temporal kejadian penyakit DBD serta trennya,” tulis Jaya dkk.

Jaya dkk. menyiapkan pemodelan spatiotemporal. Model dasar yang digunakan adalah Generalized Linear Mixed Model (GLMM) yang menangani data hitung dan asumsi banyaknya kasus yang mengikuti distribusi Poisson. Pendugaan parameter model spatiotemporal menggunakan metode baru Bayesian yang disebut Integrated Nested Laplace Approximations (INLA).

Sebagai pembanding perkiraan risiko relatif penyakit, tim peneliti menggunakan metode standar rasio morbiditas (SMR). Masing-masing pemodelan diterapkan pada 6 kecamatan di Kota Bandung, lalu hasil penghitungannya disandingkan. Hasilnya, grafik garis BST (Bayesian Spatiotemporal Model) terlihat lebih halus dibandingkan grafik yang diperoleh dengan metode SMR.

“Garis BST dengan jelas menunjukkan pola temporal smoothing dari risiko relatif juvenil untuk enam kecamatan terpilih di Kota Bandung,” tulisnya.

Dari pemodelan tersebut, Jaya dkk. membagi tingkat risiko relatif penyebaran DBD pada kelompok usia muda di satu wilayah menjadi risiko sangat rendah (0-0,5), rendah (0,5-1), sedang (1-1,5), dan tinggi (lebih besar dari 2).

Data jumlah kasus demam berdarah dengue atau DBD di Kota Bandung 2007-2021 menunjukkan tren tingkat kematian yang meninggi. (Olah data: Reza Khoerul Iman/BandungBergerak.id)

Temuan dan Rekomendasi

Model matematika yang dikembangkan Jaya dkk. mengidentifikasi sejumlah daerah di Kota Bandung yang berpotensi tinggi menjadi lokasi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD), meliputi Kecamatan Coblong, Kecamatan Babakan Ciparay, dan Kecamatan Bojongloa Kidul. Yang potensinya sangat tinggi mencakup Kecamatan Sukasari, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kecamatan Regol, Kecamatan Buah Batu, dan Kecamatan Rancasari.

Juga diketahui bahwa penyakit DBD berisiko menyebar pada awal bulan dan akhir tahun, yakni JJanuari-Maret dan Oktober-Desember. Pada periode tersebut, curah hujan relatif tinggi sehingga berpotensi menyebabkan genangan air bersih yang menjadi habitat nyamuk Aedes aegypti.

Jaya dkk. merekomendasikan penggunaan model matematis dengan memperhitungkan tren temporal dinamis untuk memetakan daerah berisiko tinggi hingga skala kecamatan..

Jaya dkk. meyakini, model untuk memprediksi penyebaran DBD bisa memberikan hasil yang lebih baik dengan memperhitungkan sejumlah faktor lainnya. Di antaranya data klimatologi, lingkungan, aspek ekonomi, kondisi sosial, serta ketinggian suatu wilayah.

“Penerapan model yang sama pada data tahun-tahun berikutnya juga sangat dianjurkan untuk memverifikasi relevansi penelitian ini dengan kondisi nyata di tahun-tahun berikutnya,” demikian tertulis dalam artikel riset itu.

Salah satu saran yang disodorkan tim peneliti kepada otoritas pemerintah di bidang kesehatan adalah pemberian perhatian lebih pada kelompok usia muda sebagai yang paling rentan. Sejumlah risiko menyertai kelompok usia ini ketika terinfeksi DBD. Termasuk, terhambatnya proses tumbuh kembang serta prestasi akademiknya.

Pencarian strategi yang efektif mencegah penyebaran DBD harus terus dilakukan. Merujuk data terbaru Dinas Kesehatan Kota Bandung, kemalangan yang diakibatkan penyakit mematikan ini masih jauh dari usai. Pada 2021, tercatat ada 3.743 kasus DBD. Dibandingkan data tahun 2014, jumlah ini jauh lebih sedikit. Namun, jumlah kasus kematiannya lebih banyak, yakni 13 orang, dibandingkan 9 kasus meninggal dunia pada 2013.

 

Artikel ini telah dibaca 8 kali

Baca Lainnya

Kuatnya Pengaruh Kekerasan Adegan Film dalam Kehidupan Nyata

8 Januari 2023 - 08:47 WIB

Keren! Faiz Affan, Guru MTsN 1 Pati Juara Lomba Video Pembelajaran Digital

1 Januari 2023 - 10:52 WIB

Luar Biasa! Mahasiswa UIN Gus Dur Raih Juara 1 Lomba LKTI Yofest Unida Gontor 2022

29 Desember 2022 - 09:42 WIB

Tingkatkan Publikasi, 4 Jurnal UIN Jakarta Peroleh Akreditasi Baru

28 Desember 2022 - 13:21 WIB

Ibu, Madrasah Pertama dan Era 4.0

22 Desember 2022 - 15:21 WIB

Keren! 2 Siswa MTsN 1 Pati Raih Medali Kompetisi Matematika, Sains, dan Inggris Tingkat Nasional 2022

22 Desember 2022 - 08:54 WIB

Trending di Riset & Edukasi