Guru Besar UIN Jakarta: Eksploitasi Lahir dari Pandangan Alam sebagai Objek

oleh

SENTRA PUBLIKASI INDONESIA-JAKARTA

Kerusakan lingkungan lahir dari krisis spiritual dan agama dimana masyarakat modern menempatkan alam sebagai objek yang tidak memiliki nilai sakral dan terpisah dari keberadaan Tuhan. Perlu penumbuhan perspektif sufistik berkesadaran lingkungan dalam mengerem hasrat eksploitatif manusia terhadap alam.

 

Demikian benang merah orasi ilmiah yang disampaikan pengajar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Prof. Dr. Bambang Irawan, dikutip dari lama UIN Jakarta, Senin (27/3/2023).

 

Orasi berjudul Green Sufisme dan Green Faith (Gerakan Ekologi Spiritual Global dalam Merespon Perubahan Iklim di Indonesia dan Amerika disampaikan Bambang dalam sidang senat pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Tasawuf.

 

Profesor Bambang mengungkapkan, berbagai fenomena krisis lingkungan lahir dari krisis spiritual dan agama dimana pada sebagian masyarakat modern memandang alam sebagai objek yang tidak memiliki nilai sakral dan terpisah dari keberadaan Tuhan. Pandangan ini menjadikan alam semata-mata objek bagi manusia dalam pemenuhan hasratnya.

 

“Pemikiran seperti ini menyebabkan alam seringkali dieksploitasi tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal, alam merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan dengan baik,” tandasnya.

 

Eksploitasi demikian, sambungnya, muncul dalam berbagai bentuk seperti perusakan hutan dengan membabat berbagai tanaman. Hal demikian dinilainya tidak hanya merusak tanaman hijau, melainkan juga seluruh organisme hidup yang tumbuh dan tinggal di dalamnya.

 

Bahkan perusakan demikian juga menyebabkan kerusakan pada lingkungan hidup manusia sendiri. “Kita bisa bayangkan kalau lingkungan rusak, kita terus dihantam virus, gempa, longsor dan bencana alam. Kalau ini terus terjadi, maka tujuan lima tujuan syariat (maqashid al-syari’ah, red.) pun bisa tidak terlaksanakan,” paparnya.

 

Pendekatan Spiritual

Dalam mengatasinya, Profesor Bambang menilai, kerusakan lingkungan tidak cukup dengan hanya pendekatan normatif dan teknologi. Mengingat eksplotasi lahir dari krisis spiritual dan keagamaan, sarannya, maka pendekatan spiritual juga perlu digunakan dalam merespon situasi ini.

“Jika merujuk studi-studi Islam, gerakan spiritual ada dalam Tasawuf. Maka tasawuf harus turut berperan dalam merespon kerusakan lingkungan yang makin parah. Ia tidak boleh hanya sekedar mengajarkan bagaimana menjadi manusia suci, sekedar mengajarkan ilmu tentang maqomat dan ahwal, tapi tidak berbasis pada kerusakan lingkungan yang semakin parah,” paparnya.

“Doktrin mahabbah seharusnya tidak hanya ditujukan kepada sang pencipta, tetapi juga ditujukan pada bumi ini dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Jargon “man lam yadzuq lam ya’rif” sejatinya diimplementasikan dalam bentuk ikut merasakan kesedihan akibat bumi yang kita huni ini terus terdesak, tersakiti karena kerakusan manusia,” paparnya lagi.

Menjadikan paradigma spiritual sebagai solusi atas krisis lingkungan, tuturnya, ia lihat dari pengalaman Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat. Selain mempelajari keilmuan Islam, para santri di pesantren diajarkan sikap menghargai alam melalui kurikulum bertani dan berkebun yang penuh penghargaan terhadap alam.

“Santri diajarkan bertanam, cinta bercocok tanam dan memakan apa yang ditanam sebagai refleksi mahabbah sekaligus syukur seperti diajarkan dalam Tasawuf,” paparnya.

Dalam menjadikan perspektif spiritual sebagai salah satu solusi penyelesaian krisis lingkungan, Profesor Bambang menawarkan gagasan ‘Green Sufisme’. Gagasan ini ia definisikan sebagai gerakan spiritual yang menggabungkan ajaran Sufisme dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup atau kesadaran ekologis dan kesadaran spiritual sebagai entitas yang saling terkait.

Solusi perspektif spiritual seperti Green Sufisme, lanjutnya, ia temukan juga dalam gerakan Green Faith di Amerika. Gerakan ini muncul dengan agenda kerjasama antara agama dalam mengatasi berbagai persoalan lingkungan sekaligus menanamkan kepedulian lingkungan pada masyarakat agama-agama di dunia.

Profesor Bambang melihat, kesamaan Green Sufisme dan Green Faith sebagai dimensi spiritual agama dengan titik tekan pemeliharaan alam lingkungan bisa menjadi jawaban dalam mengoptimalkan kesadaran lingkungan di tengah-tengah umat manusia. Untuk itu, ia melihat kedua hal ini perlu dikolaborasikan, saling bertumbuh dengan saling belajar dan berbagi pengalaman dalam merespon isu-isu lingkungan.

Kampus bisa Menjadi Contoh

Melihat potensi perspektif spiritual seperti Green Sufisme dan Green Faith sebagai solusi krisis lingkungan, Profesor Bambang melihat dunia kampus bisa memberi contoh lebih dulu. Selain menggulirkannya sebagai isu internasional, Green Sufisme dan Green Faith bisa menjadi mata kuliah tersendiri di lingkungan PTKIN.

“Lainnya dengan mengembangkan program-Program Green sufisme dan Green faith yang berkelanjutan di lingkungan kampus,” imbuhnya.

Diantaranya dengan perbaikan tata kelola sampah bernilai ekonomis dengan menjadi pupuk kompos atau pakan ternak, pemeliharaan lingkungan dengan membatasi penggunaan plastik, penanaman pohon dan penyediaan taman hijau. Lainnya, efisiensi penggunaan air dan penggunaan transportasi ramah lingkungan.